Pengajian Filsafat Garasi 10 #4: Buddha

Pengajian filsafat pamungkas yang datang tak terlalu banyak. Ada tiga orang yang hadir. Mereka adalah Kang Trisna, Rudi, dan Christopher.

Buddha lahir sekitar abad ke-6 sebelum masehi. Ia dilahirkan di sekitar kawasan Nepal, India Utara. Nama aslinya tentu saja bukan Buddha, melainkan Siddhartha Gautama. Ia adalah anak dari raja yang berkuasa dan kaya raya. Suatu hari, oleh sebab kegelisahan yang mengganggunya, ia meminta ijin untuk pergi ke luar istana (untuk pertama kalinya!). Di jalan, ia bersama kusir kudanya menemukan "Empat Penglihatan Agung". Ia melihat orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang berjubah tanpa wisma, pada keempatnya ia bertanya pada kusirnya, "Mengapa mereka seperti itu?" Untuk tiga pertanyaan pertama, kusir selalu menjawab, "Semua manusia akan mengalami itu." Sedangkan untuk kasus keempat, orang berjubah itu sendiri yang menjawabnya, "Saya adalah orang yang sudah berjalan melangkah ke depan. Menjadi sempurna, tulus dalam hidup religius, sempurna dalam hidup damai, sempurna dalam tindakan-tindakan baik, dalam tindakan-tindakan penuh belas, sempurna dalam keheningan, sempurna dalam memandang semua ciptaan/ makhluk." Mendengar itu semua, Siddhartha memutuskan untuk mencari pencerahan di luar sana, meninggalkan gelimang harta dari istana.

Singkat cerita, ia mendapatkan pencerahan di pohon Boddhi. Sejak itu ia dijuluki Buddha atau "Yang Diterangi", atau "Yang Terjaga". Buddha pada dasarnya mengajarkan beberapa konsep yang ia teruskan dari ajaran mayor sebelumnya, Hindu. Bedanya, dalam Buddha tidak ada sistem kasta, juga tidak ada personifikasi Tuhan, serta disediakan seperangkat latihan untuk mencapai pencerahan. Sisanya, Buddha mengadopsi banyak konsep Hindu seperti reinkarnasi dan karma. 

Pada dasarnya, Buddha memandang hidup ini sebagai "dislokasi" atau sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia melihat keseluruhan eksistensi manusia sebagai penderitaan. Penderitaan itu disebabkan oleh keinginan atau kehendak. Buddha menolak asketisme atau matiraga yang berlebihan dalam mengatasi kehendak itu, ia menawarkan delapan jalan kebenaran yaitu:
  • Melihat/ memandang dengan benar,
  • Mengingini dengan benar,
  • Berbicara dengan benar,
  • Bertingkah laku (bertindak) dengan benar,
  • Memakai sarana yang benar untuk hidup, 
  • Menyimpan/mewaris dengan benar,
  • Berpikir dengan lurus,
  • Bermeditasi dengan benar.
Pada titik ini sebenarnya kita menemukan Buddha sebagai agama filosofis alih-alih dogmatis. Berbagai kata "benar" ini tidak mudah untuk diartikan secara gamblang dan Buddha menyuruh pengikutnya untuk menjalani sendiri pencerahan spiritualnya untuk menemukan arti "benar" itu. Tidak seperti stereotip ajaran Semit yang kerap menghadirkan "resep mudah" bagi para pengikutnya agar selamat, Buddha malah membekali pengikutnya untuk "menjalani perjalanan panjang". Dalam hal ini kita bisa melihat bahkan filsafat Barat dengan serangkaian definisi ketatnya menjadi lebih dogmatis dari Buddha!   

Meski terlihat damai dan universal, Buddha juga ternyata mengalami perpecahan pasca meninggalnya Siddhartha. Ada aliran Theravada/ Hinayana yang menitikberatkan keselamatan diri sendiri, yang mereka klaim sebagai aliran paling murni mendekati Siddhartha. Ada juga aliran Mahayana, yang menitikberatkan pada konsep Boddhisatva, yakni orang yang mau menunda dirinya masuk nirwana (surga) untuk menyelamatkan orang lain terlebih dahulu. Konsep Mahayana ini datang belakangan dan lebih liberal.



Previous
Next Post »