Pengajian Filsafat Garasi 10 #3: Yesus dari Nazareth

Pengajian Filsafat Garasi 10 edisi ketiga diselenggarakan pada tanggal 18 Agustus 2011. Yang hadir ada tujuh orang. Dua edisi sebelumnya, pembahasan berkaitan dengan tokoh Sokrates dan Konfusius. Kedua tokoh itu seringkali diperdebatkan apakah mereka mengajarkan filsafat atau mendoktrinasi agama. Namun topik kali ini sepertinya sudah jelas bahwa yang dibicarakan adalah seorang tokoh agama. Pertanyaan pentingnya, dapatnya kita golongkan Yesus dari Nazareth itu ke dalam filsuf?

Pembahasan dimulai dengan membahas dua film yang membahas figur yang sama, namun dengan sudut pandang berbeda. Film pertama adalah Greatest Story Ever Told. Film tahun 1965 yang digarap oleh George Stevens itu, menampilkan Yesus dalam pandangan yang sangat biblikal. Film berdurasi nyaris empat jam itu seolah menjiplak persis alkitab, atau dalam bahasa nakalnya: alkitab seperti bertindak sebagai skenario film tersebut. Di sisi lain ada film The Last Temptation of Christ. Film garapan Martin Scorcese tahun 1988 itu bisa dibilang cukup kontroversial dan tidak biblikal. Di dalamnya mengandung cerita kemanusiaan Yesus yang digambarkan dengan vulgar. Tentang bagaimana ia menikahi Maria Magdalena, dan ekspresi ketidakbahagiaannya dalam menanggung beban derita sebagai "firman Tuhan".

Meski bagi kelompok tertentu film tersebut dianggap pelecehan, namun boleh juga jika dijadikan bahan renungan. Kita sering sekali menganggap Yesus (dan kita ambil satu perbandingan, Muhammad) itu tokoh yang mulia. Namun sedikit diantara kita berani bertanya, "Apakah mereka bahagia dengan takdirnya?" Jika mereka berpijak di atas badan, mempunyai daging, tentu saja rasa kemanusiaan tidak bisa dielakkan. Uniknya, keduanya dipuja barangkali bukan karena sifat keilahian yang dominan, tapi justru kenyataan bahwa keduanya mengandung sifat-sifat manusia. Seperti rintihan Yesus di tiang salib, "Tuhan, kenapa engkau campakkan aku?"

Kemanusiaan yang mereka miliki adalah titik berangkat bagaimana keduanya bisa disebut sebagai seorang filsuf. Filsuf berangkat dari rasa ingin tahu, penasaran, kehendak, obsesi, dan akhirnya berpuas diri. Meski tidak secara vulgar keduanya punya sifat-sifat demikian, namun dalam perjalanan kehidupannya, kemanusiawian itu kerap muncul. Meski demikian, filsuf barangkali tidak cuma mesti unggul dari segi pemikirannya, tapi juga konsistensi antara pemikiran dan tindakan. Hal inilah yang sangat kentara dalam kehidupan Yesus maupun Muhammad. Keduanya tidak hanya mempunyai pemikiran yang jauh ke depan, tapi juga tegar dengan tindakan-tindakannya yang pada masa itu sangat melawan kekuasaan. Konsistensi ini tidak mungkin tanpa tegangan antara tubuh, jiwa, dan ruh. Namun mereka kuat oleh sebab konsep yang aneh tapi nyata: iman.

Iman ini sering dikesampingkan dalam kegiatan berfilsafat. Filsafat adalah kegiatan olah nalar yang berangkat dari meragukan. Ragu-ragu berarti berlawanan dengan konsep iman yang berarti yakin. Iman biasanya sering dikaitkan dengan agama, dan maka itu agama dan filsafat kerap dipertentangkan. Namun pertanyaan baru bisa kita kemukakan: Adakah sesuatu di luar iman? Bukankah dengan kamu mengikuti ajaran filsafat, itu artinya percaya bahwa filsafat mengandung kebenaran? Tidakkah Hume benar bahwa, "Nalar adalah budak nafsu." Artinya, segala yang kamu ingin sesuatu itu benar, maka nalarmu akan mendukung agar itu benar.

Yesus dan Muhammad adalah orang yang gerak-geriknya adalah iman. Mereka percaya bahwa yang dilakukannya adalah benar. Dengan iman yang benar, mereka percaya bahwa itu akan membawa pada tindakan yang benar. Nalar yang dipenuhi keraguan mereka lompati tanpa kecuali, seperti manusia religius Kierkegardian. Demikianlah kefilsafatan yang bisa ditarik dari keduanya. Keduanya adalah contoh filsuf yang bertindak berdasarkan keyakinan-keyakinan dari kedalaman diri. Jika disebutkan seperti ini, rasanya tidak punya perbedaan signifikan dengan filsuf manapun.

Topik minggu depan (Terakhir): Buddha
Previous
Next Post »