Pengajian Filsafat Garasi 10 #2: Konfusius dan Tadarus Musik Garasi 10: Meniti Sejarah Musik di Indonesia

Karena ada niatan bahwa Pengajian Filsafat hari itu akan dilanjut dengan Tadarus Musik dan sahur bareng, maka kegiatan dipindahkan ke lantai atas. Suatu tempat dengan banyak buku yang dinamakan dengan Perpustakaan Garasi 10. Pertimbangannya, jika garasi dipakai hingga pagi, khawatir mobil akan terlalu lama di luar sehingga rentan terhadap kejahatan. 

Pengajian Filsafat Garasi 10 #2: Konfusius

Konfusius versi kartun. Gambar diambil dari sini.

Setelah Rabu kemarin peserta digiring ke Yunani, sekarang Pengajian Filsafat diajak untuk mengarungi kearifan negeri Cina. Tepatnya di sebuah wilayah bernama Negara Lu, ratusan tahun sebelum Sokrates, lahirlah Konfusius. Berbeda dengan Sokrates yang lahir di tengah situasi Yunani yang damai dan dia "menyengatnya" agar buas, Konfusius lahir dalam suasana Cina yang penuh kekacauan. Kehadirannya diharapkan mampu memperbaiki keadaan dan meredakan khaos.

Konfusius, yang ajarannya kemudian sering disebut dengan Konfusianisme, mengalami perdebatan serius tentang apakah ia ini mengajarkan agama atau filsafat. Disebut agama tidak salah juga, karena banyak ucapannya yang semata-mata mesti diimani, seperti pentingnya menjaga kesopanan dan adat istiadat. Namun adapun yang mengusulkan Konfusianisme dianggap sebagai filsafat, karena tujuannya tetap satu: mencintai kebijaksanaan. Persoalan apakah ucapan-ucapannya terdengar seperti agama, itu lebih dikarenakan oleh situasi dan kondisi Cina masa itu yang mengharuskan orang untuk berpedoman pada yang ajeg. Situasinya tidak memungkinkan orang untuk bertanya terlalu banyak (coba bandingkan dengan Thales dari Miletos yang mencari sebab musabab alam semesta ini, pastilah ia adalah orang yang damai dan kenyang perutnya!).


Ajaran Konfusius yang terkenal adalah etika jalan tengahnya: "Jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu." Selain itu, ia juga terkenal dengan konsep "Pembetulan Nama-Nama", yang kira-kira berbunyi, "Kekacauan terjadi ketika menteri tidak lagi bertindak sebagai menteri, raja tidak lagi bertindak sebagai raja, ayah tidak lagi bertindak sebagai ayah..." Ini jelas berbeda dengan konsep Saussurean yang mengatakan bahwa pemberian nama hanyalah sebagai pembeda. Bagi Konfusius, pemberian nama tidak semena-mena, ia mengandung makna dan juga tugas-tugas yang diembannya. Ketika pejabat yang seharusnya melayani publik lalu melakukan korupsi, maka namanya tidak lagi pejabat melainkan koruptor.

Anehnya, jika Konfusianisme ada yang menyebut dengan agama, ternyata sang guru sendiri tidak pernah membicarakan hal-hal yang transenden atau pasca-kematian. Ketika ditanya oleh muridnya, "Guru, ceritakan padaku tentang kematian." Konfusius menjawab, "Kamu tidak akan paham kematian jika tidak paham kehidupan." Hal tersebut secara luas dapat diinterpretasikan terhadap pandangan hidup masyarakat Cina pada umumnya. Dalam peribadatan tradisional, orang Cina seringkali membakar uang kertas mainan ataupun memberi sesaji dalam bentuk makanan atau rumah mainan pada orangtua atau kerabat yang meninggal. Hal tersebut menunjukkan bahwa cara memahami kematian orang Cina sejalan dengan cara memahami kehidupan. Bahwa yang makmur adalah yang beruang banyak, yang makmur adalah yang berumahtinggal dan makan enak. Untuk itulah, Tu Wei Ming, seorang pakar Konfusianisme, menyebutkan bahwa Konfusianisme mendarah daging dalam diri masyarakat Cina pada umumnya. Mereka mencari nilai-nilai tertinggi di dunia, alih-alih menolaknya seperti stereotip agama semit.

Topik minggu depan: Yesus

Tadarus Musik Garasi 10: Meniti Sejarah Musik di Indonesia

Diecky K. Indrapraja memimpin tadarusan.

Menjelang pukul sepuluh, terjadi pergantian tema. Diecky K. Indrapraja masuk untuk membawakan tema mengenai sejarah musik di Indonesia. Beberapa orang ada yang memilih untuk rebahan, tapi ada juga orang-orang baru yang datang mengetuk pintu untuk khusus mengikuti tadarus Diecky. Seperti biasa, Diecky tidak mengawali kuliahnya secara langsung, melainkan dengan ngobrol-ngobrol terlebih dahulu.

Setelah beberapa lama, Diecky memulai ceramahnya. Menurutnya, ia prihatin atas kondisi permusikan di Indonesia saat ini. "Coba jika kita menyebut nama Bach, dengan presisi kita bisa menyebut tanggal lahir, tanggal kematian, dan periode dia hidup beserta ciri-ciri musiknya," kata Diecky. Tapi coba sebutkan satu saja musisi Indonesia pra-kemerdekaan, pasti hampir mustahil ditemukan. Jangankan pra-kemerdekaan, tahun 70-an saja yang notabene masih baru-baru, kita masih kesulitan menyebutnya. "Kalaupun ada, pasti dari kalangan musik industri," ujar Diecky. 

Diecky kemudian mengusulkan adanya "penyelamatan" dari ini semua. "Mari kita coba susun sebuah literatur tentang sejarah musik di Indonesia," kata Diecky. Agar kita bisa menyebut sejarah musik sebaik orang Barat menyebut sejarah musiknya, tambahnya. Lebih jauh, jika kita paham siapa kita, katanya, maka kita akan mempunyai identitas dan kepribadian yang lebih kuat. Diecky kemudian menyebut nama-nama seperti Rahayu Supanggah dan Sapto Rahardjo yang diklasifikasikannya sebagai musisi dan komposer dengan genre Neo-Klasisisme. Lalu ada Slamet Abdul Sjukur, Dody S. Ekagustdiman, dan Franky Raden yang dikategorin bergenre Multikultural. Ia juga menyebutkan Tony Prabowo dan Otto Sidharta dalam kelompok yang bernama Non-Indonesian.

Di sela-sela penjelasannya, Diecky seringkali memutar beberapa komposisi yang menarik perhatian. Ada komposisi dari Harry Roesli dan Gatot Danar Sulistyanto yang meskipun agak tidak lazim di telinga, namun cukup mengasyikan dan kadang membuat tertawa-tawa. 

Komposisi-komposisi yang diputar oleh Diecky ini sukses membuat banyak peserta yang tumbang menjadi terjaga. Mereka yang tadinya tidak kuat dan memutuskan untuk tidur, akhirnya menyerah karena telinga mereka banyak dijejali suara kurang nyaman. Meskipun demikian, ujung dari segalanya tetap bahagia, yaitu sahur bersama. Seiring adzan subuh berkumandang, pertemuan pun ditutup.
Previous
Next Post »