Pengajian Filsafat Garasi 10 #1: Sokrates

Pengajian Filsafat Garasi 10 edisi pertama diikuti oleh delapan orang. Ada Rudy, Dhani, Diecky, Sutrisna, Ganjar, Alfi, Anwar dan Muzda. Konsumsi berupa kopi yang boleh diambil sesuka hati terhidang di meja pingpong multifungsi. Pengajian dimulai agak telat, dari yang dijadwalkan pukul tujuh menjadi hampir pukul delapan.

Sokrates, sebagaimana halnya ketiga tokoh lain yang termasuk ke dalam Four Paradigmatic Individuals versi Karl Jaspers, mempunyai persoalan historis. Pengetahuan kita tentang Sokrates berasal dari drama Aristophanes dan tulisan-tulisan Xenophon serta Plato. Sokrates sendiri tidak pernah menuliskan apapun. Juga tidak ada batu nisan yang menandai makamnya.

Diecky, salah seorang peserta pengajian, atas problem itu mengemukakan pertanyaan, "Mana yang lebih penting, kebenaran atau kehadiran?" Artinya, apakah yang terpenting bagi kita itu adalah pemikiran-pemikiran Sokrates (kebenaran) atau bukti keberadaannya (kehadiran)? Jangan-jangan, upaya untuk membuktikan keberadaan Sokrates secara historis semestinya diabaikan dan lebih baik kita cukup membayangkan dia sebagai ada. Jangan-jangan, keberadaan seseorang atau sesuatu dalam benak, terasa lebih riil ketimbang dia nyata secara eksistensi (Bayangkan jika wajah Muhammad digambarkan sebagai Skandinavian!).

Setelah problem kebenaran dan kehadiran terpecahkan, pembahasan masuk pada pemikiran Sokrates itu sendiri. Sokrates adalah lawan intelektual kaum Sofis. Kaum Sofis adalah mereka yang melakukan pengajaran-pengajaran di Yunani (bahkan hingga ke luar Yunani). Sistemnya berkeliling dan mereka dibayar untuk itu. Pertama, Sokrates mengritik bahwa filosof sejati seyogianya tidak bertindak demi uang, tapi bertindak semata-mata karena mereka cinta kebijaksanaan. Kedua, Sokrates merasa dirinya tidak mengajarkan sesuatu apa pun. Ia hanya bertanya dan bertanya, menganggap diri sebagai seorang yang tidak tahu, dan hanya bertugas sebagai bidan yang melahirkan pengetahuan dari dalam orang yang ditanyainya. Ketiga, jika kaum Sofis menganggap bahwa tidak ada kebenaran yang absolut dan segalanya adalah relatif, maka Sokrates mengatakan bahwa ada kebenaran mutlak, yang absolut, yang sejati.

Mari kita bayangkan sebuah pasar. Orang penuh lalu lalang, ada Sokrates ikut berjalan-jalan. Di tengah jalan ia sering berhenti untuk menanyai siapapun yang ia mau. Dengan santai dan terlihat bodoh, Sokrates bisa bertanya apapun tentang definisi-definisi yang orang kira sudah umum. Seperti yang ia lakukan pada Chepalos, "Apakah itu keadilan?" Kata Chepalos, "Keadilan adalah membayar utangmu." Sokrates, "Bagaimana jika kamu meminjam senjata temanmu, lalu setelah itu temanmu mendapatkan amarah hingga ia kehilangan akal. Tidakkah berbahaya jika kamu mengembalikan senjatanya di saat itu?" Chepalos tak bisa menjawab dan ia mengalami kebingungan (aporia). Namun yang demikian yang menjadi tujuan Sokrates. Ia ingin agar Chepalos mempertanyakan ulang definisi yang sudah umum sehingga lahirlah suatu pengetahuan baru dari dalam dirinya.

Sokrates juga percaya bahwa pengetahuan tentang yang benar akan membawa pada kebajikan. Menurutnya, seseorang yang melakukan kejahatan atau hal-hal yang buruk, maka ia sesungguhnya tidak punya pengetahuan tentang kebaikan. Karena jika seseorang tahu tentang kebaikan, maka ia terang saja akan melakukannya. Karena sesungguhnya hanya yang baik yang membawa pada kebahagiaan (eudaimonia). Jadi ingat doa seorang ibu ketika anak remajanya tertangkap sedang mabuk, "O Tuhan, maafkanlah ia. Sesungguhnya ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan."

Barangkali tidak ada orang yang sepadan dengan Sokrates di masa sekarang. Tidak ada satupun orang yang berani menyengat seperti Sokrates mengritik Athena sebagai kuda yang malas dan ia ingin membuatnya agar buas. Kebanyakan dari kita merasa bahwa menjadi kuda yang malas sudahlah cukup selama makan enak dan tidur nyaman. Namun sesungguhnya kita bisa menciptakan Sokrates dalam diri kita masing-masing. Menginterupsi kehidupan kita terus menerus dengan bertanya tanpa henti. Membuat kita menyadari bahwa ada pengetahuan dari dalam diri dan tugas kita untuk terus menerus menggalinya. Seperti katanya, "Hidup yang tidak dikaji, tidak layak dihidupi."

Obrolan berlangsung berlarut-larut. Garasi 10 disesaki perasaan rindu para pecinta kebijaksanaan. Semuanya berakhir ketika ... Sahur! 
Sokrates. Gambar diambil dari sini.


Topik minggu depan : Konfusius
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
6 Agustus 2011 06.44 delete

Dateng? mangga silakan. Gratis dan terbuka untuk umum.

Reply
avatar